“PENYAKIT” BANDUNG BONDOWOSO

Hati-hati dengan judul di atas. Bukan kota Bandung ibukota Jawa Barat tetapi nama seseorang yaitu Bandung Bondowoso. Seorang raja muda di zamannya yang menghendaki atau ingin memperistri wanita pujaannya bernama Roro Djonggrang. Namun demikian keinginan tersbut harus tertahan karena Roro Djonggrang memberikan syarat agar Bandung Bondowoso bisa membuatkan Candi Seribu Arca dalam waktu hanya semalaman saja. Oleh Bandung Bondowoso ternyata syarat dan permintaan wanita yang dicintainya disanggupi, dengan permintaan balik agar Roro Djonggrang tidak mbohongi janjinya. Singkat cerita Bandung Bondowoso dengan kekuatan kesaktiannya ternyata mampu menyelesaikan pembuatan Candi Arca  Seribu semalam suntuk saja, namun lagi-lagi memang dasar Roro Djonggrang tidak menyukainya, maka Bandung Bondowoso diganggu dengan perbuatan Roro Djonggrang yang membuat ayam berkokok sebelum waktunya. Dengan kejadian tersebut, sampai ada ayam berkokok atas rekayasa Roro Djonggrang maka Bandung Bondowoso baru bisa menyelesaikan 999 Arca dari Candi Seribu Arca yang diminta Roro Djonggrang. Mengingat perlakukan Roro Djonggrang tersebut akhirnya Bandung Bondowoso marah karena jelas-jelas cintanya ditolok secara halus oleh Roro Djonggrang. Akibat kemarahan tersebut maka Bandung Bondowoso menjadikan Roro Djonggrang sebagai Arca yang keseribu dari Candi Seribu Arca yang harus diselesaikan.

            Cerita dan  mitos ini dalam kehidupan Jawa masih banyak diingat dan selalu ingat dengan adanya pertunjukkan pentas kesenian Jawa yang bercerita tentang Candi Arca Seribu di Prambanan ini yang sekarang dikenal dengan Candi Prambanan. Cerita ini dalam konteks kekinian yang diambil adalah kata dan istilah Bandung Bondowoso digunakan sebagai sebuah kegiatan atau aktivitas yang cepat dilakukan dan menyelesaikan suatu tugas pekerjaan. Bodan Winarno menyebutnya bahwa bangsa kita memiliki istilah dalam budaya last minute surprise. Pretasi kerja yang dibuat dalam waktu yang singat dan terakhir dilakukan. Hari ini belum ada besuk pagipagi sudah ada dan tersedia dengan lebih rapi.

            Dalam bahasa pendidikan tinggi kita mengenal masalah waktu dan belajar ini adalah “wayangan” dan juga “bandung bondowoso”. Mahasiswa dalam pembelajarannya, melakukan kegiatan belajar hanya saat menghadapi ujian saja. Mereka belajar tidak dilakukan secara rutin hari hari ke hari, waktu ke waktu selama proses pembelajaran. Mereka belajar dilakukan pada saat menghadapi waktu ujian hendak dilakukan. Besuk pagi aka nada ujian maka mala mini akan belajar dengan penuh kekuatan dan menghabiskan waktu, pikiran dan tenaganya semalam suntuk. Oleh sebab mahasiswa yang demikian disebut dengan istilah  belajar secara bandung bondowoso atau belajar secara wayangan (pentas seni wayang di Jawa biasanya dilakukan semalam suntuk).

            Para birokrasi kita apakah di kampus maupun di pemerintahan memiliki juga budaya “bandung bondowoso”. Yaitu suatu kegiatan yang dilakukan dengan singkat mendekati waktu batas akhir. Di birokrasi pada umumnya sudah mengerti dan paham bahwa pada setiap akhir tahun anggaran harus membuat laporan pertanggungjawaban kegiatan dan keuangan unit organisasinya. Namun mereka tidak melakukan penyusunan pertanggungjawaban kegiatan dan keuangan secara kontinyu dari bulan ke bulan akan tetapi semuanya dibuat pada akhir tahun. Oleh sebab itu sangat nampak bahwa mereka mengandalkan ilmu dan budaya bandung bondowoso untuk menyusun dan menyelesaikan laporan pertanggungjawaban organisasinya. Pada hal manakala laporan disusun secara bulanan atau per aktivitas yang diselesaikan.

            Dalam bahasa Stephen R Covey tentang aktivitas “wayangan” atau “bandung bondowoso disebut seseorang memandang aktivitas diri  dan keluarganya tidak menggunakan pilihan matrik penting  dan tidak urgen. Dalam aktivitas yang menggunakan bandung bondowoso atau wayangan akan menggunakan konsep semua aktivitas itu semuanya pendting dan urgen. Kalau pilihanya adalah semua penting dan urgen, maka akan kehabisan energy dan potensi karena manajemen yang dilakukan adalah menyelesaikan masalah jangka pendek, bersikap dan perilaku sebagai pemadam kebakaran, manajemen  yang selalu kritis dan krisis. Hal ini ujungkan nya akan menghadapi kondisi diri yang stress dan manajemen krisis. Sementara jikalau kita menggunakan cara pandang bahwa semua aktivitas memiliki nilai penting dan tidak urgen, maka semuanya bisa direncanakan dengan baik dari step ke step, dari waktu ke waktu secara baik  dan kontinyus. Oleh sebab itu pilihan kita adalah hindari konsep bandung bondowoso atau wayangan dalam menjalankan kegiatan apapun, karena itu tidak pernah akan mendapatkan nilai produktivitas kerja yang baik atau tinggi. Kita seharusnya mengunakan cara berpikir “penting dan urgen” agar hidup kita lebih jelas dan teratur serta lebih productive. Kita bisa menyusun visi, perencanaan yang lebih baik menuju visi, impelemtasinyapun lebih mudah dan nyata. Konsep bekerja dengan bandung bondowoso merupakan kontra productive. Kita harus hindari “penyakit” bandung bondowoso atau wayangan. Semoga.

H.Supardi adalah

Dosen Pascasarjana dan Direktur PusBEK

Fakultas Ekonomi UII

TUNJANGAN PROFESIONAL YANG PRODUKTIVE

Bulan ini bulan bahagia bagi para dosen, karena tunjangan profesional bagi dosen sebagai hasil sertifikasi dosen tahun 2008 telah dirasakannya. Para dosen yang telah dinyatakan lolos (lulus) sertifikasi dosen pada tahun 2008, bulan ini telah mendapatkan tunjangan profesionalnya dengan menerima secara “rapelan” yaitu tunjangan sejak bulan Januari 2009 sampai Juni 2009 diterima semuanya dibulan ini dan seterusnya setiap bulan akan mendapat tunjangan professional tersebut. Insya Allah. Tentu saja para dosen merasa bersyukur atas karunia rezeki tersebut dan berterima kasih kepada pemerintah yang telah mewujudkan upaya peningkatan kesejahteraan para dosen.

            Di samping bersyukur, bagi dosen yang telah lulus sertifikasi tentu harus memiliki tugas dan tanggungjawab yang lebih berat. Secara akademik, sorang dosen yang sudah lulus sertifikasinya tentu telah diakui kepiawaian (keahlian dan ketrampilan) dalam melaksanakan pendidikan di perguruan tinggi sesuai dengan disiplin ilmu yang dipegang/dibinanya. Pengakuan tersebut dilakukan oleh para Guru Besar yang ditugaskan untuk melakukan evaluasi dan penilaian pada borang yang dipergunakan untuk sertifikasi. Pengakuan akademik dosen yang lulus sertifikasi juga dilakukan oleh pemerintah (c/q Departemen Pendidikan Nasional RI) dengan memberikan piagam Sertifikat Pendidik yang ditanda-tangani oleh Rektor Perguruan Tinggi Penyelenggara Sertifikasi Dosen. Dengan pengakuan ini secara tegas dinyatakan bahwa yang bersangkutan dinyatakan sebagai Dosen Profesional dalam program studi/bidang ilmu tertentu. Oleh sebab itu dosen yang professional harus mendudukan diri dan memiliki peran serta tanggungjawab yang lebih berat dalam penyelenggaraan pendidikan di perguruan tinggi.

            Dari sisi kesejahteraan, rasanya sudah ada perbaikan. Minimal gaji dosen yang sudah lulus sertifikasi adalah 2 (dua) kali dari gaji pokok sebelum lulus sertifikasi. Perbaikan yang cukup dapat dirasakan dengan harapan semoga inflasi masih dibawah 2 degit. Jikalau ditanyakan kepada pribadi-pribadi dosen mungkin tetap saja gaji tersebut masih belum cukup. Akan tetapi adanya perbaikan pasti telah dirasakan karena kenaikkannya 2 x lipat. Daya beli pasti meningkat, kalau dahulu beli hanya mendapat 5 buah misalnya sekarang bisa mendapat 10 buah.

            Apa harapan masyarakat pendidikan. Jawabannya tentu tidak jauh yaitu peningkatan produktivitas kerja. Secara sederhana sesuai dengan philosofi produktivitas adalah hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini, maka sangat wajar harapan itu adalah dosen professional ke depan harus lebih produktive. Produktivitas dosen sangat banyak indikatornya, diantaranya melaksanakan pendidikan lebih baik. Proses pendidikan harus direncanakan, dilaksanakan dan dikendalikan secara baik. Jumlah lulus mata kuliah meningkat disbanding sebelumnya. Bimbingan kepada mahasiswa untuk menghasilkan pemikiran dan karya ilmiah lebih meningkat. Sementara itu untuk kepentingan diri sendiri dalam rangka peningkatan karir akademiknya juga merupakan indikator produktivitas dirinya. Misalnya: jumlah bimbingan karya ilmiah yang dinyatakan lulus meningkat, jumlah tulisan di jurnal ilmiah, jumlah tulisan di surat-kabar, jumlah buku teks, jumlah makalah (paper) ilmiah dalam forum diskusi/seminar, jumlah kegiatan pengabdian pada masyarakat dan sebagainya harus meningkat.

            Bagaimana bisa meningkat?. Dari sisi waktu, tentu harus mengurai waktu di luar kampus untuk mencari tambahan hasil, karena penghasilan sudah digantikan dengan tunjangan professional. Waktu yang semula digunakan di luar kampus dipergunakan untuk kepentingan akademik di kampus. Institusi perguruan tinggi yang bersangkutan harus juga tanggap atas perubahan ini. Dosen yang sudah bisa masuk ke kampus lagi harus diberikan iklim kerja yang baik dan menyenangkan. Kebutuhan fasilitas minimal Dosen bisa berkarya secara terus menerus harus diadakan/diselenggarakan oleh pengelola perguruan tinggi. Jangan terjadi dosen sudah berubah dan sudah sadar akan tanggungjawabnya tidak diberikan perhatian secukupnya, maka bisa-bisa dosen akan berada di luar lagi.

            Kesemuanya ini merupakan tanggungjawab bersama oleh pemerintah, institusi perguruan tinggi yang bersangkutan dan dosen professional. Masyarakat pendidikan tentu sangat berharap atas treatment pemrintah dengan sertifikasi dosen dan memberikan tunjangan professional ini menjadi momentum perbaikan proses dan lulusan perguruan tinggi agar benar-benar bisa melakukan percepatan pengurangan pengangguran dan menenkan tingkat kemiskinan di masyarakat dan bangsa ini. Semoga.

Penuls adalah

Dosen Pascasarjana Fak.Ekonomi UII dan UTY

Ketua DPD Asosiasi Produktivitas Nasional Indonseia Prop.DIY

TAHUN BARU

Selama dua bulan ini kita semua di berikan waktu untuk mengatakan, mengucapkan selamat untuk peristiwa  tahun baru beberapa kali. Yaitu tahun baru hijriah, tahun baru jawa, tahun baru masehi dan beberapa waktu lagi tahun baru cina. Kata selamat kita ucapkan dengan penuh arti. Dalam arti bahasa (kamus umum bahasa Indonesia) selamat punya arti terbebas dari berbagai beban, bahaya, malapetaka, bencana dan sebagainya. Juga bisa diartikan sehat atau tidak sakit, ada arti tercapai atau keberhasilan, dan punya arti sebagai doa yaitu ucapan dengan harapan. Oleh sebab itu kita sering mengucapkan selamat itu bisa mengandung rasa syukur terhindar dari berbagai ancaman, bahaya dan malapetaka, selamat sebagai rasa syukur atas keberhasilan diri maupun orang lain, dan selamat bisa memiliki arti doa yaitu mendoakan untuk diri dan orang lain agar dikemudian mendapat pengharapan yang lebih baik dan doa terhindar dari musibah.

            Kata yang singkat namun penuh arti. Alangkah baiknya kita bisa sering mengucakannya agar mendapatkan barokhah dari Tuhan Yang Maha Esa Allah SWT. Kata assalamu’alaikum merupakan doa yang selalu diucapkan umat Islam kepada pihak lain. Selamat pagi sebuah doa agar pagi ini kita sehat dan bahagia. Kata selamat selalu diikuti kata doa tentang harapan (semoga) . Selamat jalan, medoakan agar yang sedang melakukan perjalanan keadaannya baik atau lancar atau sukses dan sebagainya. Selamat tinggal, mendaakan bagi yang ditinggal agar keadaannya juga baik-baik saja.

            Lalu apa dengan selamat tahun baru?

            Kita dengan mengucapkan selamat tahun baru, maka kita memiliki niat dan/atau kebutuhan  yaitu  kebutuhan untuk bersyukur atas segala yang sudah terjadi, kita butuh menjalani apa yang bisa kerjakan atau lakukan pada saat ini, dan kita berdoa untuk yang akan datang. Jikalau kita menjadi atau mau menjadi orang atau umat yang produktive maka harus memiliki paradigma berpikir dan bertindak bahwa hari ini lebih baik dibanding dengan hari kemarin dan hari esuk harus lebih baik dibanding hari ini. Agar kita bisa mengetahui hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka kita perlu melihat kebelakang agar supaya bisa membandingkannya. Kita catat keberhasilan yang terjadi dengan variabel-variabel kunci sukses (keberhasilan) dan catat kekuarangan atau kelemahan yang dilakukan berserta variabel yang menyebabkan kegagalan atau kekurang berhasilan. Catatan ini menjadi penting sebagai dasar perencanaan dan tindakan dikemudian hari. “Mulat sariro – hangroso wani” menjadi penting agar benar-benar secara jujur dan ikhlas melihat diri sendiri untuk perbaikan berkelanjutan.

            Selamat melakukan perenungan dan introspeksi diri di titik hari ini sebagai tutup tahun dan selanjutnya menyiapkan diri perencanaan dan tindakan ke depan dengan konsep bertindak didampingi doa. Kita harus menanamkan masa depan adalah milik kita. Masa depan harus kita raih, bukan masa depan kita lihat dan kita lepas. Kita tetap harus berupaya dan berusaha masa depan menjadi milik kita. Dengan kata selamat kita niat dan dijadikan semangat meraih kesuksesan dalam bertindak dan berkarya.

            Bagi para pegawai negeri, bagi karyawan swasta, bagi pengusaha, bagi pengrajin dan UMKM, bagi pengusaha besar, bagi birokrasi, bagi politisi, bagi para pejabat Negara, Gubernur, Bupati/Walikota, Camat, Pengelola lembaga pendidikan,  kita pergunakan momentum tutup tahun 2010 untuk melakukan instrospeksi diri atas kegagalan dan keberhasilannya sebagai bahan menapak di tahun baru 2011. Tetap kita mempunyai etos kerja yang baik untuk mewujudkan kemampuan diri menjadi insan yang produktive bahwa hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esuk lebih baik dari hari ini. Semoga.

H.Supardi adalah

Dosen Pascasarjana FE UII Yogyakarta

TANGGUNG JAWAB STAKE HOLDERS

Erupsi gunung Merapi sudah terjadi dan tidak perlu lagi kita diskusi, tidak perlu direnungi, tidak diperlukan diratapi, tidak juga kita berpangku tangan merenungi nasib. Kita harus tetap merasa syukur kepada “Sang Pencipta” Allah SWT, masih memberikan rakhmad dan hidayah kepada kita yang masih sehat dan selamat dari musibah. Bahasa Jawa yang luwes kita masih untung bahwa erupsi gunung Merapi hanya sampai Km 15 dari puncak gunung. Yang di Km 20 dan seterus selamat dari musibah dan tidak repot-repot harus mengungsi segala. Bersyukur kita tentu saja juga bukan hanya doa dan ucapan tetapi juga mampu memberikan sumbangan yang punya arti bagi mereka yang sedang merasakan dan terkena musibah.

            Pada kesempatan ini, saya mengajak untuk mendiskusikan masalah dan pemecahan masalah “pasca erupsi Merapi”. Masalah kehidupan masyarakat yang akan kembali ke tempat tinggal semula yang masih layak dan aman sebagai kawasan hunian di lereng gunung Merapi. Perdebatan rekonstruksi ataupun relokasi akan terus dilakukan untuk mencapai solusi terbaik bagi rakyat bukan terbaik bagi birokrasi. Jangan sampai para pemikir dan birokrasi hanya membahasa cara-cara yang mudah dan murah untuk mengambil pilihan keputusan rekosntruksi dan relokasi. Kebutuhan dan keinginan rakyat yang akan menjalani kehidupan dan hidup barunya diajak membahasnya. Budaya di kalangan masyarakat kita juga mendapat perhatian.

            Bahwa masyarakat memiliki nilai diri yang lebih rendah dibanding yang lainnya, juga dipertimbangkan. Kita sehari-hari sering menyatakan bahwa nyawa manusia di masyarakat kita sangat murah dan rendah nilainya sudah menjadi persepsi banyak pihak. Misal, pengendara sepeda motor lebih suka tidak menggunakan helm, merupakan bukti bahwa dirinya tidak memerlukan pengamanan dirinya akan adanya bahaya dan musibah. Pekerja yang tidak menggunakan peralatan kerja yang ditetapkan, bekerja di ketingian tidak menggunakan sabuk pengaman, sudah mengetahui ada hujan dan kemungkinan ada lahar dingin mengancam ternyata masih banyak masyarakat yang mengambil pasir dijalur bahaya. Semuanya menunjukkan bukti bahwa masyarakat sendiri yang tidak pernah memperhitungkan keselamatan dirinya akan segala kemungkinan musibah. Stikma tersebut nyawa manusia yangmurah inipun diamini oleh pemerintah dengan konsep biaya penggantian yang lebih tinggi terhadap nyawa hewan dibanding nyata manusia.

            What next?

            Pembangunan kembali wilayah DIY dan Jawa Tengah yang terkena dan mengalami musibah erupsi gunung Merapi menjadi tanggungjawab semua pihak yang berkepentingan. Dalam konteks tanggungjawab memang pemerintah sebagai peran dan pemain utama, namun kita harus juga menyadari adanya “keterbatasan” sumber daya baik sumberdaya manusia, dana, waktu, dan kemampuan pemikiran. Oleh sebab itu, kita sebaiknya melibatkan semua pihak yang berkepentingan (konsep stake holders). Birokrasi sebagai panglima menyediakan kebijakan dan  keputusan strategi dengan asas demokrasi dan memperjuangkan kepentingan rakyat banyak. Akademisi menemukan pendekatan, metode dan system pembangunan kembali kawasan Merapi. Masyarakat umumnya dengan konsep gotong royong secara bersama-sama dan kesadaran akan kebersamaan, maka akan menjadi kekuatan luar biasa membangun kembali desan dan dusun kita yang sudah rusak dan hancur.

            Rasanya kita masih memiliki etos kerja yang tinggi berlandaskan gotong royong. Apapun yang masih bisa digotong secara royong dipastikan akan efektif dan efisien serta akan lebih cepat selesai. Kita memiliki pengalaman yang sangat berharga, yaitu waktu melakukan pembangunan kembali masyarakat yang mengalami musibah gempa tektonik di Bantul beberapa waktu yang lalu. Pengalaman yang baik, menjadi guru yang baik. Tidak ada salahnya jikalau kita harus menirunya. Kita juga masih ingat berapa besarnya masyarakat diluar DIY kala itu yang datang untuk membangun rumah-rumah, dengan membawa peralatan dan bila perlu membawa bahan-bahan yang diperlukan. Mereka berdatangan dari Temanggung, Wonosob, Magelang, Solo, Wonogiri, Sragen dan setersunya.

            Kekuatan dan sumber daya yang demikian besarnya, tidak akan sulit untuk  mengge- rakkan, asal kita mengajak dengan bahasa-bahasa yang penuh nilai budaya masyarakat. Pendekatan nilai budaya akan lebih kuat dibanding dengan pendekatan transaksional (uang dan materi). Marilah kita bangun kawasan Merapi menjadi seperti semula dan menjadi lebih indah. Modal kesuburan lahan dipastikan akan terjadi. Menanam pohon penghijauan diperlukan, menanam pohon buah-buah ciri khas Sleman juga mendesak, membangun prasarana-sarana harus segera mendapat prioritas agar mobilitas lebih terjamin. Semga kita bisa melakukan percepatan membangun masyarakat pasca erupsi gunung Merapi. Insya Allah.

H.Supardi  adalah

Dosen Pascasarjana dan Direktur PusBEK

Fakultas Ekonomi UII Yogyakarta

KEKUATAN KELOMPOK

Kita sering melihat perilaku-perilaku individu dan perilaku kelompok. Seorang individu sering berperilaku kurang percaya diri, rendah diri atau adanya rasa takut. Namun manakala seorang individu itu berkumpul dengan individu yang lain akhirnya menjadi kelompok, maka seorang individu tersebut nampak memiliki percaya diri, memiliki keberanian, terlihat garang. Inilah yang disebut dengan kekuatan kelompok. Philosofi sapu bisa menjadi penting dalam membangun kekuatan kelompok. Memang seseorang dipastikan akan mengalami kesulitan dalam kehidupannya, manakala hanya sebatang kara tanpa teman. Pada dasarnya seseorang membutuhkan bantuan atau kerjasama dengan orang lain. Tujuannya jelas untuk membangun kebersamaan agar lebih kuat dan saling mengisi kekurangan-kekurangannya.

            Bersinergi merupakan istilah manajemen modern sekarang ini, yang intinya bahwa orang-orang dalam kelompok saling bekerjasama dan saling membutuhkan untuk mencapai tujuan bersama. Harus diakui memang kelompok memiliki kekuatan yang sangat besar. Kita lihat berbagai peristiwa negative belakangan ini. Secara berkelompok seseorang mampu melakukan perkelaihan secara serius dan siap mengorbankan dirinya, pada hal pada saat sendiri tidak memiliki keberanian yang memadai. Dalam hal yang positif filsafat sapu tadi, memberikan arti sebatang lidi tidak memiliki arti apa-apa, namun setelah terikat dengan jumlah memadai, maka akan data dipergunakan untuk apa saja. Menyapu lantai, membersihkan dinding, membersihkan kasur (tempat tidur), untuk memukul (gebuk) hewan nakal misalnya. Peristiwa lain juga bisa kita contohkan misalnya membangun rumah secara gotong royong ternyata bisa lebih cepat selesai dengan biaya lebih murah. Kita lihat pada saat melakukan pembangunan kembali rumah-rumah warga Bantul pasca gempa tektonik tahun 2006.

            Kekuatan kelompok menjadi sangat kuat dan besar. Namun bagaimana membangun dan menggabungkan individu menjadi kelompok yang kuat dan besar. W Clement Stone (dalam Mamuel A Cypert) memberikan tip sebagai berikut. (1). Mulailah menyesuaikan diri dengan setiap anggota kelompok. Kita tidak akan bisa berinteraksi dengan orang lain tanpa kita mampu saling mengenal lebih dekat, saling menyesuaikan diri secara nilai, sikap dan perilaku. (2). Perhatikan bahasa tubuhnya. Sering kali kita temukan dalam berinteraksi dengan orang lain bahasa tubuh (ekspresi wajah, gerakan anggota badan, kerlingan mata dll) dapat menyatakan dan mengatakan yang lebih banyak dari pada dengan kata-kata. (3). Peka terhadap apa yang tidak terkatakan. Kata sanepo, senyuman, sindiran dapat memberikan pertanda atau penuh arti dalam berinteraksi dengan orang lain. Kadang-kadang secara ekstrim dikatakan “apa yang tidak dikatakan lebih penting dari pada apa yang dikatakan”

            (4). Pastikan bahwa gabungan kemampuan Anda memiliki tujuan yang pasti, dan setiap anggota kelompok memahami tujuan kelompok secara penuh. (5). Pilihlah anggota kelompok yang memiliki pendidikan, pengalaman, dan pengaruh yang paling sesuai untuk mencapai tujuan. (6). Tentukanlah apa yang akan diterima oleh setiap anggota kelompok sebagai imbalan atas partisipasinya. Bersikap adil dan murah hati memang merupakan dasar utama dalam melakukan partnership atau bersinergi. (7). Ciptakanlah lingkungan yang tidak mengancam. Memahami dan kemampuan menelusuri gagasan dan minat anggota secara seksama dan saling memperhatikan akan membuat sikap dan perilaku saling menyenangkan, menghormati dan penuh perhatian. Oleh  sebab itu kebersamaan dalam kelompok akan menjadi lebih kuat. (8). Ketahuilah kapan menggerakkan kelompok. Manakala salah seorang sudah mulai memonopoli pembicaraan, maka akan terjadi awal masalah dalam komunikasi, maka pembicaraan dapat lebih diringkas dan kemudian memindahlan pada pembicaraan pokok masalah yang lainnya.

            (9). Tentukan waktu dan tempat pertemuan dan dikomunikasikan secara transparan, maka akan dapat membangun kepercayaan dan komunikasi yang baik. (10). Bentuklah rasa tanggung-jawab dan mengurai langkah-langkah yang sakan ditempuh kelompok dalam mewujudkan tujuannya. (11). Ingatlah bahwa tanggung-jawab diletakan atau terletak pada Pemimpinnya, untuk menjaga kedamaian, dan memastikan bahwa semua anggota kelompok  bekerja secara kolektif serta secara individual dalam mencapai tujuan bersama. (12). Jumlah anggota kelompok harus dibatasi sampai mencapai jumlah yang optimal untuk melakukan kegiatan. Jumlah yang besar sulit melakukan monitoring dan pengendalian, jumlah yang kecil tidak cukup untuk menyelesaikan aktivitas untuk mencapai tujuan. Dalam konteks ini span of control memang harus ditetapkan.

            Kemampaun membangun kelompok yang kokoh dan kuat merupakan pekerjaan yang tidak sederhana. Dengan tip tadi diharapkan menjadi bahan referensi membangun kekuatan kelompok secara sederhana. Untuk membuktikan yang dicoba dan implementasikan dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi lingkungannya. Semoga.

H.Supardi  adalah

Dosen Pascasarjana dan Direktur PusBEK

Fak. Ekonomi UII Yogyakarta