“PENYAKIT” BANDUNG BONDOWOSO
Hati-hati dengan judul di atas. Bukan kota Bandung ibukota Jawa Barat tetapi nama seseorang yaitu Bandung Bondowoso. Seorang raja muda di zamannya yang menghendaki atau ingin memperistri wanita pujaannya bernama Roro Djonggrang. Namun demikian keinginan tersbut harus tertahan karena Roro Djonggrang memberikan syarat agar Bandung Bondowoso bisa membuatkan Candi Seribu Arca dalam waktu hanya semalaman saja. Oleh Bandung Bondowoso ternyata syarat dan permintaan wanita yang dicintainya disanggupi, dengan permintaan balik agar Roro Djonggrang tidak mbohongi janjinya. Singkat cerita Bandung Bondowoso dengan kekuatan kesaktiannya ternyata mampu menyelesaikan pembuatan Candi Arca Seribu semalam suntuk saja, namun lagi-lagi memang dasar Roro Djonggrang tidak menyukainya, maka Bandung Bondowoso diganggu dengan perbuatan Roro Djonggrang yang membuat ayam berkokok sebelum waktunya. Dengan kejadian tersebut, sampai ada ayam berkokok atas rekayasa Roro Djonggrang maka Bandung Bondowoso baru bisa menyelesaikan 999 Arca dari Candi Seribu Arca yang diminta Roro Djonggrang. Mengingat perlakukan Roro Djonggrang tersebut akhirnya Bandung Bondowoso marah karena jelas-jelas cintanya ditolok secara halus oleh Roro Djonggrang. Akibat kemarahan tersebut maka Bandung Bondowoso menjadikan Roro Djonggrang sebagai Arca yang keseribu dari Candi Seribu Arca yang harus diselesaikan.
Cerita dan mitos ini dalam kehidupan Jawa masih banyak diingat dan selalu ingat dengan adanya pertunjukkan pentas kesenian Jawa yang bercerita tentang Candi Arca Seribu di Prambanan ini yang sekarang dikenal dengan Candi Prambanan. Cerita ini dalam konteks kekinian yang diambil adalah kata dan istilah Bandung Bondowoso digunakan sebagai sebuah kegiatan atau aktivitas yang cepat dilakukan dan menyelesaikan suatu tugas pekerjaan. Bodan Winarno menyebutnya bahwa bangsa kita memiliki istilah dalam budaya last minute surprise. Pretasi kerja yang dibuat dalam waktu yang singat dan terakhir dilakukan. Hari ini belum ada besuk pagipagi sudah ada dan tersedia dengan lebih rapi.
Dalam bahasa pendidikan tinggi kita mengenal masalah waktu dan belajar ini adalah “wayangan” dan juga “bandung bondowoso”. Mahasiswa dalam pembelajarannya, melakukan kegiatan belajar hanya saat menghadapi ujian saja. Mereka belajar tidak dilakukan secara rutin hari hari ke hari, waktu ke waktu selama proses pembelajaran. Mereka belajar dilakukan pada saat menghadapi waktu ujian hendak dilakukan. Besuk pagi aka nada ujian maka mala mini akan belajar dengan penuh kekuatan dan menghabiskan waktu, pikiran dan tenaganya semalam suntuk. Oleh sebab mahasiswa yang demikian disebut dengan istilah belajar secara bandung bondowoso atau belajar secara wayangan (pentas seni wayang di Jawa biasanya dilakukan semalam suntuk).
Para birokrasi kita apakah di kampus maupun di pemerintahan memiliki juga budaya “bandung bondowoso”. Yaitu suatu kegiatan yang dilakukan dengan singkat mendekati waktu batas akhir. Di birokrasi pada umumnya sudah mengerti dan paham bahwa pada setiap akhir tahun anggaran harus membuat laporan pertanggungjawaban kegiatan dan keuangan unit organisasinya. Namun mereka tidak melakukan penyusunan pertanggungjawaban kegiatan dan keuangan secara kontinyu dari bulan ke bulan akan tetapi semuanya dibuat pada akhir tahun. Oleh sebab itu sangat nampak bahwa mereka mengandalkan ilmu dan budaya bandung bondowoso untuk menyusun dan menyelesaikan laporan pertanggungjawaban organisasinya. Pada hal manakala laporan disusun secara bulanan atau per aktivitas yang diselesaikan.
Dalam bahasa Stephen R Covey tentang aktivitas “wayangan” atau “bandung bondowoso disebut seseorang memandang aktivitas diri dan keluarganya tidak menggunakan pilihan matrik penting dan tidak urgen. Dalam aktivitas yang menggunakan bandung bondowoso atau wayangan akan menggunakan konsep semua aktivitas itu semuanya pendting dan urgen. Kalau pilihanya adalah semua penting dan urgen, maka akan kehabisan energy dan potensi karena manajemen yang dilakukan adalah menyelesaikan masalah jangka pendek, bersikap dan perilaku sebagai pemadam kebakaran, manajemen yang selalu kritis dan krisis. Hal ini ujungkan nya akan menghadapi kondisi diri yang stress dan manajemen krisis. Sementara jikalau kita menggunakan cara pandang bahwa semua aktivitas memiliki nilai penting dan tidak urgen, maka semuanya bisa direncanakan dengan baik dari step ke step, dari waktu ke waktu secara baik dan kontinyus. Oleh sebab itu pilihan kita adalah hindari konsep bandung bondowoso atau wayangan dalam menjalankan kegiatan apapun, karena itu tidak pernah akan mendapatkan nilai produktivitas kerja yang baik atau tinggi. Kita seharusnya mengunakan cara berpikir “penting dan urgen” agar hidup kita lebih jelas dan teratur serta lebih productive. Kita bisa menyusun visi, perencanaan yang lebih baik menuju visi, impelemtasinyapun lebih mudah dan nyata. Konsep bekerja dengan bandung bondowoso merupakan kontra productive. Kita harus hindari “penyakit” bandung bondowoso atau wayangan. Semoga.
H.Supardi adalah
Dosen Pascasarjana dan Direktur PusBEK
Fakultas Ekonomi UII